Sering Stuck Ngerjain Skripsi? Mungkin
Kamu Melanggar 15 Hal Ini!
Oleh : Muhammad Sodiki, SH., MH
Mengerjakan tugas akhir—baik itu
skripsi, tesis, maupun disertasi—sering dianggap sebagai fase paling
menegangkan dalam perjalanan akademik. Proses ini bukan hanya menguji kemampuan
akademik, tetapi juga kedisiplinan, mental, dan strategi manajemen waktu.
Sayangnya, banyak mahasiswa yang terjebak dalam kesalahan-kesalahan klasik
sehingga proses pengerjaan semakin berat dan berlarut-larut.
Artikel ini membahas 15 hal yang
wajib dihindari agar perjalanan menyelesaikan tugas akhir lebih efektif,
efisien, dan tidak berujung pada stres berkepanjangan.
1. Menunda-nunda (Prokrastinasi)
Kesalahan paling umum adalah kebiasaan
menunda. Mahasiswa sering berpikir “nanti saja” atau menunggu mood bagus untuk
menulis. Padahal, semakin lama ditunda, semakin menumpuk beban yang harus
diselesaikan. Prokrastinasi juga bisa menyebabkan deadline terlewat, revisi
menumpuk, hingga rasa cemas berlebihan.
Solusi: Terapkan teknik Pomodoro atau
buat target harian kecil agar tetap produktif.
2. Tidak Membuat Jadwal dan Timeline
Banyak mahasiswa menganggap tugas akhir
bisa dikerjakan tanpa perencanaan waktu. Akibatnya, pengerjaan jadi acak, tidak
terarah, bahkan berhenti di tengah jalan.
Solusi: Buat timeline realistis yang mencakup
tahap mencari literatur, menulis bab, mengumpulkan data, hingga revisi akhir.
3. Asal Memilih Topik
Memilih topik karena ikut-ikutan teman
atau sekadar dianggap mudah bisa berujung bencana. Jika topik tidak sesuai
minat, penelitian terasa membosankan dan membuat motivasi cepat hilang.
Solusi: Pilih topik yang relevan dengan bidang
ilmu, punya data yang tersedia, dan sesuai dengan minat pribadi.
4. Mengabaikan Konsultasi dengan Dosen
Pembimbing
Beberapa mahasiswa menganggap bisa
menyelesaikan semuanya sendiri. Padahal, dosen pembimbing adalah penentu arah
penelitian dan pemberi “lampu hijau” untuk maju ke tahap berikutnya.
Solusi: Rutin berkonsultasi, meskipun hanya
untuk memastikan langkah yang diambil sudah benar.
5. Copy-Paste (Plagiarisme)
Plagiarisme adalah dosa akademik.
Mengambil karya orang lain tanpa sitasi yang benar bisa berakibat fatal:
skripsi ditolak, nilai diturunkan, bahkan reputasi rusak.
Solusi: Gunakan software pendeteksi plagiarisme
(Turnitin, Grammarly, dsb.) dan biasakan menulis dengan parafrasa.
6. Tidak Menguasai Literatur
Literatur adalah fondasi teori dalam
tugas akhir. Jika hanya sedikit membaca, argumen penelitian akan lemah dan
sulit menjawab pertanyaan saat sidang.
Solusi: Kumpulkan jurnal terbaru, buku, dan
sumber terpercaya minimal 5–10 tahun terakhir agar penelitian lebih kuat.
7. Terlalu Perfeksionis
Ingin tulisan sempurna sering membuat
mahasiswa terjebak dalam revisi tanpa akhir. Perfeksionisme bisa membuat
kemajuan tertunda.
Solusi: Fokus pada progres, bukan kesempurnaan.
Ingat, revisi akan selalu ada.
8. Menunda Penulisan Hingga Data Lengkap
Banyak yang menunggu data terkumpul
semua baru mulai menulis. Akibatnya, waktu jadi tidak efisien.
Solusi: Mulai menulis bagian pendahuluan atau
kajian pustaka sejak awal, sementara pengumpulan data berjalan paralel.
9. Mengabaikan Format Penulisan
Setiap kampus punya pedoman penulisan
sendiri. Jika mengabaikan aturan ini, hasil akhir bisa ditolak meski
substansinya bagus.
Solusi: Pahami pedoman sejak awal, terutama
terkait sitasi, daftar pustaka, margin, dan gaya bahasa.
10. Data Tidak Valid atau Rekayasa Data
Beberapa mahasiswa tergoda untuk
memanipulasi data agar sesuai harapan. Ini berbahaya karena akan mudah
terbongkar saat ujian.
Solusi: Pastikan data dikumpulkan dengan metode
yang benar dan jujur.
11. Tidak Mempersiapkan Diri untuk
Revisi
Revisi adalah bagian normal dari proses
penelitian. Banyak mahasiswa yang kaget dan patah semangat saat menerima banyak
catatan dari dosen.
Solusi: Anggap revisi sebagai masukan berharga
untuk memperbaiki kualitas karya ilmiah.
12. Bergantung pada Satu Sumber
Mengutip hanya dari satu buku atau
artikel membuat penelitian terlihat dangkal.
Solusi: Gunakan beragam sumber: jurnal, artikel
ilmiah, buku, hingga laporan penelitian terdahulu.
13. Menyepelekan Bab Metodologi
Metodologi adalah jantung penelitian.
Jika tidak jelas, seluruh hasil penelitian akan diragukan.
Solusi: Kuasai metode penelitian sejak awal dan
konsultasikan dengan dosen pembimbing.
14. Tidak Menjaga Kesehatan
Begadang tanpa henti demi mengejar
deadline justru merugikan. Tubuh lelah, pikiran kacau, dan produktivitas
menurun drastis.
Solusi: Atur pola tidur, makan sehat, dan
luangkan waktu untuk olahraga ringan.
15. Menutup Diri dari Dukungan Sosial
Menganggap skripsi sebagai beban pribadi
sering membuat mahasiswa stres dan merasa sendirian.
Solusi: Bangun dukungan dengan teman
seperjuangan, komunitas, atau keluarga agar tetap termotivasi.
Kesimpulan
Mengerjakan skripsi, tesis, atau
disertasi bukan hanya soal kecerdasan akademik, tetapi juga soal strategi
menghindari kesalahan klasik. Dengan menjauhi 15 hal di atas, perjalanan
tugas akhir akan terasa lebih ringan dan terarah.
Posting Komentar