Disusun Oleh :
Muhammad Sodiki 14.50.0021
Jurusan Hukum Ekonomi Syariah
UNISKA BANJARMASIN
KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU DALAM PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
| BAB I PENDAHULUAN |
1.1. Latar Belakang
Filsafat adalah sumber dan dasar dari cabang-cabang filsafat yang lain termasuk didalamnya adalah filsafat ilmu. Filsafat ilmu dari berbagai kalangan filsuf dianggap sebagai suatu cabang filsafat yang sangat penting dan mesti dipelajari secara mendalam. Filsafat tentunnya sangat berbeda dengan ilmu karena untuk mengkaji dan mengetahui apakah sesuatu itu adalah ilmu ternyata dasarnya adalah dengan jalan berfikir secara mendalam atau berkontemplasi.
Dalam perumusan suatu ilmu ataupun pengetahuan sebelum secara konkrit disebut sebagai ilmu dan pengetahuan tentunya ada rumusan yang dianggap mampu memberikan nilai-nilai yang mendekati suatu kesempurnaan berfikir sehingga pada akhirnya sesuatu itu dikatakan sebagai ilmu atau pengetahuan. Dalam kajian itu pula ternyata harus melalui suatu proses yang oleh parah ahli disebut berfilsafat.
Filsafat secara umum adalah sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran, secara khusus terdapat banyak perbedaan pendapat dapat dilihat dari berbagai segi yaitu menggunakan rationalisme atau mengagungkan akal, materialisme atau mengagungkan materi, idealisme atau mengagungkan ide, hedonisme mengagungkan kesenangan dan atau stocisme mengagungkan tabiat saleh.
Filsafat ilmu dan filsafat tidak dapat dipisahkan bahkan jikalau diibaratkan keduanya seperti mata uang logam atau dua sisi yang saling terkait. Untuk memahami secara umum kedua sisi tersebut maka perlu pemisahan dua hal itu yaitu filsafat ilmu disatu sisi sebagai disiplin ilmu dan disisi lain sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan obyek khusus, yaitu ilmu pengetahuan yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu hampir sama dengan filsafat pada umumnya dan filsafat ilmu sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan, ia merupakan kerangka dasar dari proses keilmuan itu sendiri.
Secara sederhana, filsafat dapat diartikan sebagai berfikir menurut tata tertib dengan bebas dan sedalam-dalamnya, sehingga sampai kedasar suatu persoalan, yakni berfikir yang mempunyai ciri-ciri khusus, seperti analitis, pemahaman deskriptif, evaluatif, interpretatif dan spekulatif. Sejalan dengan ini, Musa Asy’ari menyatakan bahwa filsafat adalah berfikir bebas, radikal, dan berada pada dataran makna. Bebas artinya tidak ada yang menghalang-halangi kerja pikiran. Radikal artinya berfikir sampai ke akar-akar masalah (mendalam) bahkan sampai melewati batas-batas fisik atau yang disebut metafisis. Sedang berfikir dalam tahap makna berarti menemukan makna terdalam dan suatu yang terkandung didalamnya. Makna tersebut bisa berupa nilai-nilai seperti kebenaran, keindahan ataupun kebaikan.
Sedangkan Ilmu dapat disimpulkan sebagai sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, obyektif, dapat diukur, terbuka dan komulatif (tersusun timbun).
Dalam gambaran tentang filsafat dan ilmu diatas maka dalam penulisan makalah ini di berikan judul “HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN”
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana kajian filsafat terhadap filsafat ilmu pengetahuan.
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah
- Untuk mengetahui kedudukan ilmu filsafat dalam perkembangan ilmu pengetahuan
- Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Gambaran Tentang filsafat
2.1.1 Sejarah Penemuan filsafat
Filsafat dalam pandangan barat diperkirakan muncul pada abad ke- 7 sebelum masehi di Yunani. Dalam Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan disekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana yaitu di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filosof ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filosof-filosof Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Socrates, Plato, dan Aristoteles. Socrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
2.1.2 Pengertian Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan Secara Garis Besar
Jika kita mengatakan berapa pentingnya filsafat sebagai ilmu dan filsafat terapan termasuk di dalamnya filsafat Agama, filsafat pancasila, filsafat pendidikan dan sebagainya, namun amatlah sukar untuk memberikan definisi yang konkret apalagi abstrak terhadap masing-masingnya. Terutama kata filsafat berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bisa di fikirkan oleh manusia dan bahkan dapat di katakan tidak akan pernah habisnya. Karena daripadanya mengandung dua kemungkinan yaitu proses berfikir dan hasil berfikir. Filsafat dalam artian pertama adalah jalan yang di tempuh untuk memecahkan masalah, sedangkan pada pengertian yang kedua adalah kesimpulan atau hasil yang di peroleh dari pemecahan atau pembahasan masalah.
Kemudian sesuai dengan perkembangan akal pikiran manusia yang senantiasa mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perubahan, maka pengertian filsafat juga mengalami perkembangan dan perubahan konotasi yang telah dapat menguasai kehidupan umat manusia sehingga mempengaruhi filsafat hidup suatu bangsa menjadi norma negara.
Apakah filsafat itu? Filsafat dari segi bahasa bermakna:
Hakikat filsafat adalah menggunakan ratio (berpikir). Tapi tidak semua proses berpikir di sebut filsafat. Dan manusia yang dapat berpikir.
Dan pemikiran manusia tidak didapat di pelajari ada 4(empat) golongan pemikiran itu:
- Pemikiran pseudo ilmiah
- Pemikran awam
- Pemikiran ilmiah
- Pemikiran filosofis
Pemikiran pseudo ilmiah bertumpu kepada aspek kepercayaan dan kebudayaan mitos,dan bekas-bekasnya dapat kita jumpai dalam astrologi atau kepercayaan terhadap buku primbun. Kalau pemikiran awam adalah pemikran orang-orang dewasa yang menggunakan akal sehat, karena bagi orang awam untuk memacahkan kesulitan dalam kehidupan cukup dengan menggunkaan akal sehat tanpa melakukan penelitiaan lazimnya terlebih dahulu. Selanjutnya pemikiran ilmiah sebagaimana lazimnya menggunakan metode-metode, tata pikir dalam paradigma ilmu pengetahuan tertentu, dilengkapi dengan penggunaan hipotesis untuk menguji kebenaran konsepteori atau pemikiran dalam dunia empiris yang tidak pernah selesai dalam proses keilmuan. Sedangkan ilmu filosofi adalah kegiatan berfikir reflektif mengikuti kegiatanan analisis pemahaman, deskripsi, penilaian, penafsiran dan perekaan yang bertujuan untuk memperoleh kejelasan, kecerahan, keterangan, kebenaran, pengertiaan, dan penyatu panduan tentang objek. Filsafat juga merupakan ilmu yang tertua yang menjadi induk-induk ilmu pengetahuan.
2.2 Hubungan Filsafat Ilmu Dengan Ilmu Pengetahuan
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah (Bertens, 1987, Nuchelmans, 1982).
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar-bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.
Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.
Untuk mengatasi gap antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Oleh karena itu, maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Kunto Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
Lebih lanjut Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam The Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu.
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah. Lebih jauh, Jujun S. Suriasumantri (1982), dengan meminjam pemikiran Will Durant– menjelaskan hubungan antara ilmu dengan filsafat dengan mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang berhasil merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.
Untuk melihat hubungan antara filsafat dan ilmu, ada baiknya kita lihat pada perbandingan antara ilmu dengan filsafat dalam bagan di bawah ini, (disarikan dari Drs. Agraha Suhandi, 1992).
Ilmu
|
Filsafat
|
|
|
2.3 Hubungan Filsafat Dengan Cabang-Cabang Ilmu Pengetahuan
2.3.1 Hubungan filsafat ilmu dengan cabang ilmu pengetahuan
Pengetahuan sebagai produk berpikir merupakan obor dan semen peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna. Berbagai peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan itulah yang menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai komputer zaman sekarang. Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kenyataan hidup sehari-hari dan beragam buah pemikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari sejarah kebudayaannya. Meskipun kelihatannya betapa banyak dan keanekaragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakekatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok yakni : Apakah yang ingin kita ketahui? (ontologi) Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? (epismotologi) dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita? (aksiologi).
Pertanyaan tersebut kelihatannya sederhana, tetapi mencangkup sebuah permasalahan besar yang menyangkut hak asasi. Berbagai buah pemikiran besar sebenarnya banyak dihasilkan dari serangkaian tiga pertanyaan tadi. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Sehingga ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan dari pengetahuan yang terkoordinasi mengenai pokok pemikiran tertentu.
Filsafat ilmu adalah theory of science (teori ilmu), meta science (adi-ilmu), science of science (ilmu tentang ilmu). The Liang Gie mendefinisikan bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala kehidupan manusia.
Filsafat ilmu memiliki hubungan-hubungan dengan ilmu pengetahuan lainnya, seperti hubungan filsafat ilmu dengan antropologi, hubungan filsafat ilmu dengan ilmu politik.
2.3.2 Hubungan filsafat ilmu dengan antropologi
Antropologi membahas tentang segala aspek hubungan manusia. Filsafat menelaah segala yang mungkin dipikirkan oleh manusia. Ilmu hanya maju apabila masyarakat dan peradaban berkembang. Filsafat ilmu merupakan metode penalaran dari suatu bidang studi, misalnya antropologi.
Filsafat menelaah segala yang mungkin dipikirkan oleh manusia. Antropologi membahas manusia dan kebudayaan dari suatu masyarakat yang pada masa lalu hingga masa kini kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang didalamnya terkandung “dorongan-dorongan hidup” yang dasar, insting, perasaan dengan pikiran, kemauan, dan fantasi. Budi inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap objek dan kelebihan.
2.3.3 Hubungan filsafat ilmu dengan ilmu politik
Ilmu politik mempelajari salah satu aspek kehidupan manusia antara manusia tentang kewenangan sehingga diperlukan analisis yang jelas dalam menelaahnya dan menurut van Dyke politik memenuhi syarat sebagai suatu ilmu karena memiliki variability, systematic, generality. Selain itu ilmu polotik merupakan suatu pengetahuan campuran yang pengembangannya bergantung pada hubungan timbal balik dan saling pengaruh antara filsafat dan ilmu sehingga terjadi relevansi antara politik dan filsafat ilmu.
Politik dapat dikatakan sebagai filsafat karena dalam mempelajari politik diperlukan cara berpikir yang kompleks sistematis serta politik adalah sebuah ilmu yang menyangkut salah satu aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan kemenangan yang perlu dianalisis secara kritis.
2.4 Kedudukan Filsafat
2.4.1 Kedudukan Filsafat dalam Ilmu Pengetahuan
Kedudukan filasafat dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan central,asal atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya usaha manusia dibidang kerohanian untuk mencapai kebenaran atau pengetahuaaan. Lambat laun sesuai dengan sifatnya, manusia tidak pernah merasa puas dengan meninjau sesuatu hal dari beberapa sudut yang umum, melainkan juga ingin memperhatikan hal-hal yang khusus. Kemudian pembahasan tentang kedudukan atau hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan atau berfikir filosofis dan berfikiran akan melengkapi uraian ini dengan piaget tentang etismologigenetis yaitu fase-fase berfikir dan pikiran manusia mengambil contoh perkembangan akan mulai dari tahun pertama usia anak hingga dewasa.
2.4.2 Kedudukan Filsafat dalam Kehidupan Manusia
Untuk memberikan gambaran bagaimana kedudukan filsafat dalam kehidupan manusia maka terlebih dahulu di ungkapkan kembali pengertian filsafat dalam bahasan sebelumnya, filsafat mengandung pengertian adalah suatu ikhtiar untuk berfikir secara dikal dalam arti mulai dari arti akan segala suatu gejala, hal hendak di permasalahkan sampai mencapai kebenaran yang di lakukan dengan kesungguhan dan kejujuran melalui tahapan-tahapan pikiran oleh karena itu pikiran seorang yang berfilsafat adalah orang yang berfikir secara sadar dan bertanggung jawab, dengan pertanggung jawaban pertama adalah terhadap dirinya sendiri. Kemudian untuk memberikan gambaran bagaimana pengetahuan memberikan kesadaran pada manusia tentang kenyataan yang di berikan oleh filsafat dapat di ikuti contoh uraian berikut ini:
“ada seorang guru atau pemikir yang mempunyai kesadaran diri untuk mendapatkan dan meningkatkan pemahaman yang ada di dalam kehidupan nyata, misalnya bagaimana pengetahuaan tersebut di perolehnya, dan bagaimana bentuk dari apa yang telah di kuasai, maka berfilsafatlah yang di bantu mereka yang di dapatnnya. Karena memang dalam abad ini pesoalaan pengetahuaan merupakan pusat permasalahan di dalam agenda seorang ahli filsafat”
Ada tiga objek material dalam filsafat yaitu manusia dunia akhirat. Objek material akhirat dalam konteks hidup orang beriman melahirkan filsafat ketuhanan. Kemudian objek material manusia dan dunia melahirkan filsafat manusia dan filsafat alam. Karena ketiga cabang filsafat ini tidak mengalami perkembangan/statis saja, maka dengan sebuah dinamika yang terarah menghasilkan cabang filsafat lainnya, yaitu filsafat etika. Agar pembahasan antara manusia, alam, ketuhanan dan patokan-patokan etis terjadi dengan benar, maka lahirlah filsafat pengetahuan. Disini kita sudah sampai pada kedudukan filsafat pengetahuan yang tugasnya ialah menyoroti gejala pengetahuan manusia berdasarkan sudut sebab musabak pertama.
Dimana posisi filsafat ilmu ketika dihadapkan dengan islamisasi ilmu pengetahuan. Pada dasarnya filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori substantif. Selanjutnya cara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoperasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.
2.5 Kedudukan Peranan Filsafat Ilmu dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pada dasarnya filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara subtantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif. Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.
Sedangkan kajian yang dibahas dalam filsafat ilmu adalah meliputi hakekat (esensi) pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti; ontologi ilmu, epistimologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dari ketiga landasan tersebut, bila dikaitkan dengan ilmu pengetahuan maka letak filsafat ilmu itu terletak pada ontologi dan epistimologinya. Ontologi disini titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan, jadi landasan ontologi ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas. Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris. Manakala realitas yang dimaksud adalah spirit atau roh, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humanoria.
Sedangkan epistimologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Dari penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwa kedudukan filsafat ilmu dalam ilmu pengetahuan terletak pada ontologi dan epistemologinya ilmu pengetahuan tersebut. Ontologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan, jadi landasan ontologi ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas.
Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris. Manakala realitas yang dimaksud adalah spirit atau roh, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humanoria. Dan epistimologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Filsafat memiliki hubungan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan yaitu untuk menjebatani dan mewadahi perbedaan-perbedaan yang muncul dari cabang-cabang ilmu pengetahuan tersebut.
Filsafat berperan sebagai induk yang melahirkan dan membantu agar ilmu pengetahuan itu dapat hidup dan mengalami perkembangan.
Daftar Pustaka
Achmad Sanusi,.(1998 ), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Bandung.
Adib,Muhammad,(2010), Filsafat Ilmu, Yogyakarta:Pustaka Pelajar
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hubungan-antara-filsafat-dengan-ilmu/

Posting Komentar